Metode Belajar Sifva Fauziah
Pada hari Senin 17
Oktober 2016 dalam mata pelajaran Keterampilan Belajar dan Literasi Informasi
(KBLI) dilakukan diskusi secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga
orang, kebetulan saya sekelompok dengan Delia Amalia dan Asri Sriwahyuni. Topik
dalam diskusi membahas metode belajar atau gaya belajar dari masing-masing.
Tujuan dari diskusi ini adalah untuk saling berbagi metode belajar,
permasalahan dalam proses belajar, saling berbagi kritik dan juga saran.
Dalam kegiatan belajar
saya menggunakan metode yang tidak menentu, terkadang saya menyesuaikan dengan
mood saya dan mata pelajaran yang akan saya kerjakan dari segi inila saya
menemukan kekurangan saya ketika belajar. Ketika belajar saya lebih suka pada
waktu dini hari dalam keheningan malam yang terdengar hanya suara jangkrik dan
semilir angin malam. Saya juga lebih suka belajar dengan mengeraskan suara saya
layaknya sedang mengobrol dengan media yang saya gunakan, seperti handphone,
notebook atau buku pelajaran. Saya merasa nyaman ketika melakukan metode
belajar seperti itu walaupun terkadang metode ini mengganggu kenyamanan orang
lain hehehe. Terkadang saya mendengarkan musik sambil belajar tetapi itu hanya
dalam pelajaran tertentu saja, seperti matematika, fisika, kimia dan lain-lain.
Saya melakukan metode ini sejak saya duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP)
hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), metode ini bisa membantu saya dalam
menjalani pembelajaran di sekolah.
Namun ketika menjadi
mahasiswa, ya benar sekarang saya seorang mahasiswa Fakultas Keperawatan
Universitas Padjajaran. Saya merasa tidak bisa mengatur waktu belajar saya
dengan baik seperti ketika SMP dan SMA. Semenjak menjadi mahasiswa saya tidur
larut malam mengerjakan tugas jadi waktu untuk bangun dini hari selalu terlambat.
Yang mengejutkan, ketika ada tes mengenai metode belajar yang dianjurkan untuk
diikuti oleh dosen mata pelajaran KBLI ternyata hasil yang saya terima tidak
sesuai dengan diri saya. Saya dinyatakan sebagai tipe orang yang senang
menggunakan metode audio dan membaca padahal saya lebih suka belajar ditempat
yang hening, tetapi memang benar saya juga suka mendengarkan musik ketika
belajar. Untuk metode membaca, saya setuju dan tidak setuju karena pelajaran
yang harus dibaca kadang membosankan sehingga membuat saya kurang tertarik
untuk membaca dan mempelajarinya. Entahlah, saya merasa masih bingung dalam
melakukan metode belajar yang sesuai dengan diri saya.
Metode Belajar Delia Amalia
Metode Belajar Delia Amalia
Pada hari Senin 17 Oktober 2016
dilakukan diskusi secara berkelompok. Saya sekelompok dengan Sifva Fauziah dan
Asri Sriwahyuni. Topik dalam diskusi membahas metode belajar atau gaya belajar
dari masing-masing. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk saling berbagi metode
belajar, permasalahan dalam proses belajar, saling berbagi kritik dan juga
saran.
Metode belajar yang biasa saya lakukan
tergantung dari jenis pelajarannya itu sendiri. Tapi secara dominan untuk jenis
hapalan saya lebih suka untuk membacanya dengan cara mengeraskan suara. Selain
itu, saya juga harus melapalkannya selayaknya seorang guru yang sedang
mengajar. Menurut saya ini yang paling efektif. Apabila mulai bosan saya
biasanya sambil mendengarkan music, namun music yang digunakan jangan berbahasa
Indonesia karena bukan menambah focus tetapi menjadi pindah fokus. Saya biasanya
menggunakan musik berbahasa Inggris. Walaupun masih mengerti tapi setidaknya
tidak mengerti secara penuh. Alirannya disesuaikan terkadang pop, akustik,
bahkan klasik.
Saya mempunyai masalah yang menurut saya
ini aneh. Masalah ini hadir mulai saya masuk SMP kelas 8. Pada waktu itusya
mulai merasakan kejanggalan. Saya sering menonjol di diskusi kelas, soal-soal
yang sulit. Namun ketika ujian saya menjadi berfikiran terlalu jauh. Dan yang
terjadi adalah saya menjadi kebingungan dalam mengerjakan ssoal. Alhasil ujian
saya pun kacau karena pikiran saya yang terlalu tinggi itu. Masalah kedua
adalah saya sering lupa dengan apa yang telah saya baca ketika malam. Ketika
ujian tiba-tiba sebagian besar dari apa yang say abaca hilang.
Untuk mengatasi masalah tersebut saya
pernah tanyakan pada seseorang yang memilki nilai yang baik. Dalam hati saya
fikir dia bisa membagi metode belajar yang dia gunakan. Dan yang terjadi adalah
sebuah jawaban yang sangat memukul saya. Dia berkata “ Bukan metodenya dulu
yang dipikirkan tetapi bagaimana dan seberapa sering Kamiu belajar”. Setelah
mendengar jawaban itu berarti tidak ada masalah dengan gaya belajar saya. Ynag
harus saya lakukan adalah belajar dan latihan yang lebih giat, emudian berfikir
posistif dalam segala tindakan.
Ketika saya memasuki perkuliahan saya
bertemu dengan mata kuliah yang membahas metode pembelajaran. Ketika saya
memepelajarinya saya merasa sedikit mengambil jarak. Maksudnya saya tidak
terlalu percaya dengan hasil tes yang menuliskan bahwa saya memiliki metode
belajar audio dan praktik. Hal itu disebabkan karena saya tidak bisa belajar
hanya dengan mendengarkan, saya harus membacanya dan baru saya lapalkan dan
juga praktikan. Tetapi dilain sisi saya juga percaya, karena saya tidak bisa
belajar apabila ada suara-suara diluar suara music, music pun harus yang saya
sukai. Saya lebih nyaman di keheningan.
Setelah saya membaca metode-metode
belajar yang ada ternyata memang semua yang saya lakuakan ketika belajjar
adalah metode auditori. Pada saat itu sya mulai percaya bahwa metode belajar
itu penting. Kemudian untuk mengurangi masalah yang saya hadapi saya berusaha
untuk lebih tenang dan berpikir positif dalam mengerjakan setiap soal. Satu
yang paling penting adalah keprcayaan pada diri sendiri. Jujur sangat sulit
untuk melakuakan strategi ini, namun saya akan coba terapakan untuk kedepannya.
Masalah dalam proses belajar juga keika
saya memasuki perkuliahan menjadi bertamabah. Faktor yang paling utama adalah
adanya teman sekamar yang membuat saya tidak bisa menerapkan metode belajar
tersebut dengan optimal. Setelah saya lakukan critical thinking, saya mendapat
satu solusi yaitu dengan berbicarajujur pada teman sekamar saya mengenai gaya
belajar saya. Namun jawaban yang saya terima adalah tidak sesuai dengan
keinginan saya. Hal tersebut membuat saya untuk mencari cara lain. Cara yang
saya dapat adalah dengan belajar ketika dia tidur. Hal tersebut cukup efektif,
namun menyiksa keadaan badan saya. Akhirnya saya sekarang berusaha memanfaatkan
waktu untuk mebaca ketika dia tidak ada.
Saran :
Menurut saya,
lebih baik Delia tetap mempertahankan dan mempergunakan metode belajar delia
yang sudah terbiasa dilakukan walaupun hasil dari tes kepribadian berbeda
dengan hasil yang sebenarnya.
Metode Belajar Asri Sriwahyuni
Pada hari senin, 17 Oktober 2016 mata
kuliah KBLI memberikan tugas kepada mahasiswa mengenai metode pembelajaran yang
digunakan oleh mahasiswa. Tugas ini bertujuan agar mahasiswa dapat lebih
mengenal dirinya sendiri mengenai metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang
selama ini saya gunakan adalah audio visual atau pembelajaran dengan cara
menyajikan bahan pelajaran dengan menggunakan alat-alat media pengajaran yang
dapat memperdengarkan, atau memperagakan bahan-bahan tersebut sehingga
mahasiswa dapat menyaksikan secara langsung, mengamat-amati secara cermat,
memegang / merasakan bahan-bahan peragaan itu. Pada setiap kali penyajian bahan
pelajaran semestinya guru menggunakan media pengajaran, seperti lembaran balik,
papan planel, proyektor, dan lain sebagainya Metode pembelajaran yang saya
gunakan selalu berbeda. Namun seiring berjalannya waktu,saya merasakan
perubahan mengenai metode pembelajaran di fkep. Awalnya memang saya belajar
dengan metode audio fisual,tetapi saat di fkep berubah terkadang saya mengerti
apa yang dibicarakan dosen terkadang saya bingung. Saya tidak bisa belajar
ketika saya sedang mengalami stress atau ada hal berat yang dipikirkan,sehingga
fokus saya terbagi menjadi dua. Pembelajaran yang saya lakukan sulit untuk
berkelompok karena dengan belajar secara kelompok menurut saya kurang efektif
dan seringkali ketika belajar kelompok tidak dapat belajar dengan fokus. Hal
ini disebabkan karena ketika belajar berkelompok tidak semua terfokus pada
pembelajaran ,tetapi selalu ada kegiatan lain diluar pembeljaran. Saya lebih
suka belajar sendiri dengan keadaan hening,tenang, dan tidak ada gangguan
apapun. Terkadang saat saya sedang belajar fokus, saya sulit untuk ditanya atau
mungkin saya akan merasa marah ketika ada yang mengganggu saya belajar dengan
fokus. Saya tipe orang yang mudah bosan dan jika saya sudah mulai bosan tidak
dapat melanjutkan pembelajaran dengan benar, maka dari itu saya lebih senang
jika dalam pembelajaran ada praktek-prakteknya yang lebih mudah saya pahami.
Saya belajar ketika malam hari,tetapi tidak hanya malam hari karena jika hanya
malam hari saya terkadang lupa apa yang telah dipelajari,sehingga saya lebih
dapat menghapal ketika akan menjelang subuh. Seringkali saya menggunakan media
handphone, laptop atau buku untuk
mencari bahan referensi belajar, tetapi saya juga selalu meminta teman untuk
menjelaskan kembali tentang pelajaran yang dibahas. Seringkali says belajar
dengan menyalakan musik agar tidal merasa bosan dan saya juga selalu menyiapkan
makanan atau cemilan serta minuman sebelum akan memulai pembelajaran agar
ketika saya merasa haus atau lapar tidak harus menyiapkannya terlebih dahulu
karena ketika saya sedang belajar lalu harus melakukan kegiatan lain terlebih
dahulu fokus saya akan terbagi dan sulit untuk mempelajari pelajaran.
Dalam hal ini saya dapat menyimpulkan
bahwa metode pembelajaran setiap orang itu dapat berubah tegantung dari keadaan
orang tersebut. Tidak ada yang salah dalam memiliki metode pembelajaran yang
unik atau beda dari yang lain karena setiap orang mempunyao caranya
masing-masing untuk dapat memahami dalam belajar. Khususnya saya sendiri,saya
harus dapat mengatur waktu saya dalam belajar karena saya pribadi merasa kurang
memaksimalkan metode pembelajaran yang saya miliki.
Dari diskusi ini kami menemui kesamaan dalam metode belajar namun semua hal itu kembali kepada diri kita masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar